beda dan berbahaya

rock4

Mereka yang kemarin bernyanyi lantang “muda, beda dan berbahaya”, tak menutup kemungkinan untuk segera menjadi “tua, bodoh dan membosankan”.

Waktu memang sanggup menelan apapun. Dan mereka yang seperti itu adalah pembangkang palsu. Pseudo rebels. Oleh karena itu beda dan berbahaya, sesungguhnya, tidak melulu berhubungan dengan muda dan tua. Ia tidak dengan sendirinya melekat pada umur. Ia bisa milik siapa saja. Beda dan berbahaya adalah hal yang seharusnya terus-menerus dipelajari dan dilakukan. Ia menjadi teori dan praksis. Ia menjadi nafas. Ia adalah kata lain dari “kritis”. Ia adalah anti status quo.

Siang itu, dengan kostumnya yang berbahaya, di antara bisingnya pasar barang bekas, Pak Wo banyak berbicara kepada saya tentang hal-hal itu.

Advertisements

Diimpikan

Gambar

Pakaian diimpikan. Jenis-jenis pakaian tertentu diimpikan oleh manusia-manusia jenis tertentu pula. Hubungan kausal yang spesifik dan puitik. Tapi pasar menyebutnya dengan gampangan sebagai “segmen”.
Dan kemudian industri, seperti biasa, membuat mimpi-mimpi itu menjadi agresif dan intimidatif.
Kini kita harus menelusuri semuanya dengan berhati-hati: “Darimanakah mimpi-mimpi itu berasal?”

td

suatu hari

Gambar

Saya sedang membuat pola untuk sebuah dress ketika tiba-tiba teringat tentang sesuatu. Sekadar info, dress yang sedang saya buat itu mempunyai lingkar badan 84, lingkar pinggang 62, lingkar pinggul 88, dan panjang dress, terhitung dari lekuk leher, 86. Lumayan. Rencananya dress itu akan berpotongan sederhana dan bersiluet lekat menempel tubuh. Selebihnya, saya akan mencoba untuk bermain dengan tekstur kain.

Jadi, saya sedang menggambar dan memotong pola, sambil mendengarkan Wagner -dan berselang-seling dengan Dead Kennedy, the Clash dan Propagandhi- ketika tiba-tiba saya teringat bahwa pemilu, kendati saya tak pernah terlibat, akan digelar sebentar lagi.

Ingatan yang mendadak muncul itu lalu membawa saya kepada ingatan yang lain lagi.

Kemarin pagi, sambil sarapan di warung langganan, saya melihat monyet. Monyet itu dirantai di tembok bagian belakang sebuah bangunan kosong yang hangus akibat peristiwa Mei 98 yang hingga kini, entah kenapa, tak dibangun kembali. Monyet itu bergelayutan di antara ban-ban bekas dan pipa besi yang sengaja dicentelkan dan dipakukan ke tembok. Ia tak berdaya dan seharusnya tidak berada di situ. Saya yakin, siapapun partai dan legeslatif yang akan keluar sebagai pemenang di daerah pemilihan itu tak akan menghiraukan nasib si monyet. Siapapun pemenang pemilu, yang akan digelar sebentar lagi, si monyet tetap saja adalah pihak yang kalah.

Berapa jumlah monyet yang ada di Indonesia?

Menurut pedangdut Rhoma Irama, dulu, bertahun lalu, ada 135 juta jiwa monyet di Indonesia (masih ingat liriknya kan?). Kini jumlahnya tentu saja telah membengkak. Lebih dari 250 juta jiwa monyet. Itupun belum termasuk monyet yang tinggal di pohon-pohon.

td

skirt malam jahanam

mini-skirt photo by toha adog

Gaun malam yang memperlihatkan mata kaki perempuan adalah hal menjijikkan, demikian kata Valentino pada suatu saat. Mungkin, saat itu, ia sedang membayangkan malam yang agung dan elok. Dan, tentu saja, itu urusan dia.

Sementara itu, saya ingin membuat mini-skirt yang binal, tidak sopan, kotor, murahan, dangkal dan penuh dosa. Sebuah skirt yang mampu membuat seekor lalat menabrakkan dirinya berkali-kali ke kaca jendela. Sebuah mini-skirt untuk malam jahanam.

tm

tersengat visual

walking photo by toha adog

Tank, seekor anjing campuran (antara anjing tekel, anjing kampung dan hantu sungai), menghajar mati seekor tikus got pada suatu hari. Tikus got yang malang itu tentunya tengah mencoba menyusup ke dalam rumah dan sekaligus tempat kerja kami. Sejak kami memungutnya dari jalanan beberapa tahun lalu, Tank memang telah menugaskan dirinya sendiri sebagai penjaga pintu pagar bagian barat. Tank penuh dedikasi, berdisiplin tinggi, sedikit ngawur dan keras kepala. Saya menduga ia pernah dilatih secara militer.

Tikus got yang gemuk itu mati tanpa sepengetahuan saya. Tank meninggalkan bangkainya begitu saja di bawah pohon mangga. Beberapa hari kemudian, ketika aroma bangkai telah menyebar kemana-mana, saya kelabakan. Dan akhirnya sayapun menemukan bangkai itu. Bangkai yang telah berbelatung.

Melihat kondisi bangkai itu, saya seperti tersengat. Sengatan visual dari bangkai tikus itu bahkan membuat saya demam sehari penuh dan muntah-muntah. Sejak saat itu, visual bangkai tikus itu menetap di dalam kesadaran saya. Tubuh, rasa dan pikiran saya kemudian mengolahnya, entah menjadi apa.

Saya pikir, pada banyak hal, tanpa memilah-milahnya menjadi negatif dan positif, proses kreatif seseorang dipengaruhi dan terbentuk dari sengatan-sengatan yang ia alami sepanjang hidupnya. Sengatan itu, bagi saya, selain bangkai tikus, bisa berupa sebuah gaun Christian Lacroix, atau rancangan Rei Kawakubo, atau sepenggal adegan dalam film Kaufman, atau kain tenun tua asal Sumba milik seorang teman yang saya lihat pada suatu malam.

td

bersaku tiga, bukan satu

Gambar

Pakaian tak hanya terbuat dari benang. Pakaian tak hanya terbentuk oleh jarum. Pakaian juga terbuat dan terbentuk oleh kekuasaan dan nafsu menertibkan. Dan oleh karena itu, pakaian tak hanya dibuat dan dikerjakan oleh para tukang jahit, namun ia juga dibuat dan dijahit oleh perangkat-perangkat otoritas, mekanisme-mekanisme sosial, dan para pemegang tafsir.

Mendiang Ali Sadikin, Gubernur Jakarta pada tahun 70-an, pernah mengatakan bahwa kemeja batik adalah pakaian yang dapat diterima pada resepsi-resepsi dan jamuan makan malam untuk menggantikan jas atau pakaian sejenis, yang, pada saat itu, lebih dikenal sebagai setelan barat. Namun haruslah dibedakan mana kemeja batik yang resmi dan tidak resmi. Masih menurutnya, kemeja batik “tidak resmi” adalah yang berlengan pendek dan bersaku satu. Dan kemeja batik “resmi” adalah yang berlengan panjang dan memiliki tiga saku, satu di atas dan dua di bawah, kiri dan kanan.

Pada saat itu, memang, kemudian menjadi maraklah kemeja-kemeja batik yang bersaku tiga, bukan satu, mendatangi acara-acara resmi. Kemeja-kemeja batik itu, yang bersaku tiga, bukan satu, menjadi jauh lebih percaya diri untuk bergaul di segala tingkatan.

Apapun itu, suka atau tidak suka, kurang-lebih, begitulah pakaian terjahit.

Deru mesin jahit dan desis kekuasaan.

Dulu dan sekarang. Sekonyol apapun.