Tertulis dan tak tertulis. Terkatakan dan tidak

woman in black

Konsekuensi logis dari adanya busana muslim adalah adanya busana non muslim.

Tapi benarkah?

Di sebuah toko buku yang cukup besar di kota Solo, saya pernah mendapati sebuah rak besar yang di atasnya tertera sebuah tulisan : Novel Islam. Dan lalu saya bertanya kepada si penjaga toko, tentang apa maksud dari tulisan di atas rak itu. Si penjaga menjawab bahwa itu berarti buku-buku yang ada di dalam rak besar itu adalah novel Islam. Dan lalu saya kembali bertanya kepadanya: “Jadi adakah rak yang bertuliskan novel Kristen, atau Hindu, atau tak beragama?” Si penjaga tersenyum dan menggeleng.

Ketidak-adaan tak serta merta kosong.

Saya akan meminjam guyonan Slavoj Zizek yang ia ambil dari dialog film Ninocka, karya Ernst Lubick. Di mana Si pemeran utama masuk ke cafetaria, dan memesan kopi tanpa krim. Dan berikut jawaban dari si pelayan: “Ma’af, kami kehabisan krim, kami hanya punya susu. Jadi, bagaimana kalau saya buatkan kopi tanpa susu?”

Menurut Zizek itu adalah jawaban yang cemerlang dan menjelaskan bahwa: kopi tanpa krim dan kopi tanpa susu bukanlah hal yang sama. Yang tidak anda dapatkan adalah bagian dari identitas dari apa yang anda dapat.

Logika tersebut, dengan sedikit modifikasi, bisa kita pinjam untuk menggarisbawahi bahwa terdapat pertukaran rumit antara apa yang dikatakan dan tidak dikatakan, apa yang tertulis dengan apa yang tidak tertulis.

T.D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s