Filosofi Pakaian

Saya tidak mengada-ada, atau bermaksud hendak melucu, saat mengatakan bahwa ketika krisis ekonomi-politik yang melanda Indonesia pada Mei 1998 itu mencapai puncaknya, dan akhirnya meledak dan berbelok arah menjadi kerusuhan rasial, dan lalu meluluhlantakkan kota Solo, pada waktu itu, di saat yang genting itu, kakak perempuan saya justru sedang khusyuk menjahit.

Pada tahun-tahun itu saya, kakak perempuan saya, dan ibu saya masih tinggal serumah, dan kakak perempuan saya membuka praktek menjahit di rumah yang kami tinggali bersama itu. Pada hari yang menghebohkan itu, di mana sejarah mencatatnya sebagai salah satu hari yang paling memalukan, kakak perempuan saya tengah menyelesaikan pekerjaannya yang berupa sebuah gaun pengantin warna putih yang cantik dan penuh payet dan renda. Dan ia, karena mengejar tenggat waktu, mengerjakan gaun itu dengan penuh perhatian sehingga tak menyadari kalau berderet pertokoan yang terletak tak sampai seratus meter dari rumah kami dijarah dan dibakar massa. Tetangga-tetangga kami berlarian.

Seandainya kakak perempuan saya sempat keluar rumah sejenak pada hari itu, dan melihat ke sekelilingnya, di mana mobil-mobil dibakar di tengah jalan dan berderet pertokoan hangus dan orang-orang merampok barang-barang seperti kesetanan, mungkin ia akan mempunyai sebuah pertanyaan penting yang berhubungan dengan dunia jahit menjahit, yakni: “Secantik apapun gaun pengantin seseorang, sebagus apapun jahitan dan potongannya, orang gila macam apakah yang hendak menikah di saat seperti ini?”

Pada hari itu, di saat kerusuhan Mei 98 meledak, banyak orang memasang tulisan “Pribumi Muslim” di pintu-pintu rumah atau toko-toko mereka.

Saya sebenarnya telah berkali-kali menceritakan kisah ini, dan menuliskannya di beberapa kesempatan lain, tapi tetap saja harus saya ulangi lagi, bahwa terlepas dari tragedi yang memalukan dan memilukan itu, gaun pengantin buatan kakak perempuan saya itu memang betul-betul cantik. Ia mempunyai detil yang rumit, konstruktif, bervolume dan bersiluet sempurna. Dior, Balenciaga, Marc Jacobs pasti gigit jari dan merasa ngehek ketika melihatnya.

***

Kerusuhan itu menewaskan banyak orang. Kota Solo, yang memang tak begitu besar, alih-alih menjadi sebuah kota pariwisata seperti yang pemerintah kota inginkan, pada saat itu justru menjadi sebuah kota hantu yang penuh dengan bangunan-bangunan hangus dan bangkai-bangkai mobil dan orang-orang hilang. Listrik diputus. Transportasi umum macet. Kebutuhan pokok tak dijual. Selama berhari-hari tak ada beras, bubur, roti, telor atau minyak.

Ibu saya adalah salah seorang yang tidak memasang tulisan “Pribumi Muslim” di pintu depan atau di jendela atau di pagar, kendati rumah kami berada di pinggir sebuah jalan besar, dan oleh karena itu berpeluang besar untuk dirampok atau setidaknya untuk dirusak. Ia hanya menyiapkan sebuah pentungan yang terbuat dari kayu di sebalik pintu. Saya pada hari itu justru bersepeda keliling kota untuk melihat-lihat. Betapa tololnya. Dan seperti yang sudah saya katakan, pada saat itu, kakak perempuan saya sedang sibuk menjahit sebuah gaun pengantin. Jadi, selain ibu saya, tak ada yang peduli untuk menjaga rumah. Kini harus saya akui, ibu saya, pada saat itu, tentu merasa mendongkol luarbiasa, seperti seorang tak bersepatu yang menginjak tai, akibat memiliki anak-anak yang sangat tidak berguna. Untungnya, rumah kami baik-baik saja.

Dan benar saja, pernikahan itu akhirnya ditunda. Gaun pengantin buatan kakak perempuan saya itu, kendati telah ia selesaikan tepat waktu, akhirnya baru diambil oleh si pemesan sekitar tiga atau empat bulan kemudian.

Kata pepatah: lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Sebuah pepatah lain mengatakan: Setiap detil keadaan politik, sosial, budaya dan ekonomi sebuah wilayah akan membentuk dan mengkonstruksi fiolosofi berpakaian masyarakatnya.

Jadi, kira-kira, filosofi berpakaian seperti apa yang kita punya sesaat sebelum dan sesudah kerusuhan rasial itu???

 

TD

2 thoughts on “Filosofi Pakaian

  1. mengingatkan pada foto Meliha Varesanovic ..dress up..melenggang dengan high heels dan mascara melewati jalanan yg dipenuhi sniper pada masa blokade militer di sarajevo. beberapa orang tau benar bagaimana menggunakan fashion untuk berbicara dengan style

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s