beda dan berbahaya

rock4

Mereka yang kemarin bernyanyi lantang “muda, beda dan berbahaya”, tak menutup kemungkinan untuk segera menjadi “tua, bodoh dan membosankan”.

Waktu memang sanggup menelan apapun. Dan mereka yang seperti itu adalah pembangkang palsu. Pseudo rebels. Oleh karena itu beda dan berbahaya, sesungguhnya, tidak melulu berhubungan dengan muda dan tua. Ia tidak dengan sendirinya melekat pada umur. Ia bisa milik siapa saja. Beda dan berbahaya adalah hal yang seharusnya terus-menerus dipelajari dan dilakukan. Ia menjadi teori dan praksis. Ia menjadi nafas. Ia adalah kata lain dari “kritis”. Ia adalah anti status quo.

Siang itu, dengan kostumnya yang berbahaya, di antara bisingnya pasar barang bekas, Pak Wo banyak berbicara kepada saya tentang hal-hal itu.

Advertisements

skirt malam jahanam

mini-skirt photo by toha adog

Gaun malam yang memperlihatkan mata kaki perempuan adalah hal menjijikkan, demikian kata Valentino pada suatu saat. Mungkin, saat itu, ia sedang membayangkan malam yang agung dan elok. Dan, tentu saja, itu urusan dia.

Sementara itu, saya ingin membuat mini-skirt yang binal, tidak sopan, kotor, murahan, dangkal dan penuh dosa. Sebuah skirt yang mampu membuat seekor lalat menabrakkan dirinya berkali-kali ke kaca jendela. Sebuah mini-skirt untuk malam jahanam.

tm

Tutup Kepala itu Penting

Gambar

Beberapa diskripsi dari periode awal Islamisasi di Jawa mengisahkan bagaimana pemimpin mengenakan pakaian-pakaian yang berbeda-beda untuk tujuan-tujuan tertentu.

Dalam sebuah artikelnya, Kees van Dijk menyitir sebuah laporan Rijckloff van Goens, yang pada pertengahan abad ketujuh belas, sebagai wakil VOC, berkesempatan mengunjungi istana Mataram, di mana ia dapat menyaksikan salah satu penampilan publik raja Mataram, Susuhunan Mangkurat I (1646-1677). Van Goens mendeskripsikan bagaimana sekitar empat, lima, enam, tujuh sampai delapan ratus bangsawan berkuda berkumpul di alun-alun, dan dengan sangat tekun mengamati dandanan kepala sang raja, apakah memakai tutup kepala Jawa atau turban gaya Turki. Jika raja mengenakan turban, maka semua orang menanggalkan tutup kepala mereka dan mengambil penutup kepala yang lain dari pelayan mereka agar sama dengan sang raja.

Dalam artikelnya tersebut, yang disatukan dalam buku Outward Appearances, Kees van Dijk mengajukan sebuah pertanyaan: Mengapa Susuhunan memakai penutup kepala Jawa, sedangkan pada kesempatan lain ia memakai tutup kepala muslim? Apa yang menjadi pertimbangannya? Mengapa Van Goens tidak menjelaskan hal tersebut? Sedangkan menurutnya, literatur Jawa tradisional kadang-kadang tidak memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti itu.

Tapi tak hanya Kees van Dijk yang mempunyai pertanyaan. Dugaan saya, seluruh pembaca menyimpan pertanyaannya masing-masing.

Sedangkan pertanyaan saya adalah: apa yang akan dilakukan oleh sekitar empat, lima, enam, tujuh sampai delapan ratus bangsawan yang berkumpul di alun-alun itu jika Mangkurat I, karena merasa ganjil, lantas mengganti turban Turki yang telah ia pakai dengan tutup kepala Jawa, dan lalu, dengan sedikit ragu, karena masih merasa ganjil juga, menggantinya kembali dengan turban Turki, dan lalu menggantinya lagi dengan tutup kepala Jawa, dan, yah, menggantinya lagi dengan turban Turki, tapi tak lama kemudian menggantinya kembali dengan tutup kepala Jawa, dan, yah, turban Turki lagi, tutup kepala Jawa lagi, turban Turki lagi, tutup kepala Jawa lagi, turban Turki lagi, dan begitu seterusnya.

Apakah sekitar empat, lima, enam, tujuh sampai delapan ratus bangsawan yang berkumpul di alun-alun itu akan mengikutinya? Kalau iya, saya membayangkan kejadian di alun-alun itu tentu sangat menghibur rakyat.

TD

Dewa-Dewi

Bagaimanakah, seharusnya, dewa-dewa berpenampilan?

Dalam novelnya Anansi Boys, Neil Gaiman menggambarkan sosok dewa sebagai seorang lelaki tua berbadan kecil yang mengenakan topi fedora hijau, bersarung tangan warna kuning lemon, dan terkadang mengenakan jas kotak-kotak yang rapi. Dan ia, dewa itu, jago menyanyi. Ia adalah penguasa sejati ruang karaoke. Ia dapat membawakan lagu Yellow Bird, What’s New Pussycat? Dan Under the Boardwalk dengan sangat menyentuh hati. Ia, walaupun tua, sangat mempesona. Ia bagaikan sesuatu dari masa silam, saat sopan santun dan tata krama masih dihargai, begitu tulis Neil Gaiman.

Dewa yang digambarkan oleh Neil Gaiman secara asik itu adalah dewa jail, si Anansi. Di tempat yang lain, ia bisa saja berbentuk laba-laba.

Kurt Vonnegut pernah menulis bahwa ia sebenarnya berharap bahwa dirinyalah yang menulis naskah Our Town. Ia juga berharap bahwa dialah yang menemukan sepatu roda.

Dave Grohl, seorang musisi dan penulis lagu, berharap bahwa dialah yang menciptakan lagu Happy Birthday.

Sementara itu, saya berharap sayalah yang menulis Anansi Boys. Atau Cats’s Cradle atau Timequake, novel-novel milik Kurt Vonnegut. Saya juga berharap bahwa sayalah yang menemukan teori relativitas. Dan, tak lupa, saya juga berharap bahwa sayalah yang membuat seluruh rancangan Louis Vuitton pada peragaan Fall/Winter 2012/2013 lalu, topi-topi besar itu, coat-coat, skirt-skirt, dan dress-dress itu, bukan Marc Jacobs. Dan seandainya benar demikian, saya, tentu saja, tak akan menyerahkan rancangan-rancangan itu kepada Louis Vuitton. Enak saja.

Tapi, yah, lupakanlah.

Sementara itu, dalam pewayangan, dewa-dewa seringkali digambarkan penuh dengan keanggunan dan kewibawaan. Mereka berkain, berkalung, beranting dan bergelang, serta berambut panjang dan bermahkota. Cerita dasar pewayangan adalah Ramayana dan Mahabharata, dan oleh karena itu, penampilan dewa-dewa tersebut tentu saja mengambil konteks Hindu. Dalam wayang kulit, dewa-dewa itu tak jarang digambarkan dengan pakaian berhiaskan prada emas.

Dewa-dewa Yunani, seingat saya, juga berkain. Kain pada dewa-dewi Yunani biasanya polos, tidak bermotif. Melihat jatuhnya kain, saya menduga kain-kain itu hanya dililit, tidak dijahit, dan apalagi diobras. Mesin obras ditemukan baru-baru saja.

***

Tentu saja, dewa-dewi, dan segala turunan dan kerabatnya, selalu diharapkan berpenampilan pantas. Kepantasan penampilan mereka -dewa-dewi dan segala turunan dan kerabatnya tersebut- tidak bisa dilepaskan dari konteks ruang dan waktu yang melingkupinya.

Penampilan mereka terkadang juga berkaitan dengan kekuatan serta spesialisasi keahlian yang mereka miliki. Dan aksesoris serta perlengkapan pakaian yang mereka kenakan, tak jarang, memiliki fungsi tertentu.

Dalam riwayat Jaka Tarub, Dewi Nawangwulan, si bidadari, tak bisa kembali terbang ke kahyangan hanya karena selendangnya disembunyikan oleh Jaka Tarub. Selidik punya selidik, selendang itu ternyata berfungsi seperti sayap pada burung, atau baling-baling pada pesawat propeller, atau mesin jet pada pesawat jet, atau helm pada sepeda motor yang hendak melintas di perempatan yang ada pos polisi di pojokannya.

Jadi, selendang itu lebih dari sekadar selendang. Ia mempunyai fungsi rahasia yang penting. Hal itu serta merta mengingatkan saya pada ibu-ibu jaman dulu yang gemar menyimpan uang pada ujung selendang yang disimpul. Di mana mereka harus membuka dan menyimpul kembali ujung selendang itu setiap kali hendak menaruh dan mengambil uang.

TD

kaos

Kakek dari seorang kawan saya ditangkap tentara karena dituduh terlibat komunis pada peristiwa 65.

Di dalam tahanan, kendati tak terbukti dengan tuduhan yang dituduhkan kepadanya, kakek kawan saya seringkali diperlakukan dengan sewenang-wenang. Ia kerap disuruh berkubang di dalam lumpur, dan lalu oleh para penjaga tahanan, sambil tertawa-tawa, ia dipanggil dengan sebutan kebo atau kerbau. Kakek kawan saya itu sangat tersinggung dengan perlakuan yang diterimanya, dan seperti yang kawan saya ceritakan kepada saya, hal itu akhirnya membuat jiwanya sedikit terganggu.

Beberapa tahun kemudian, sekeluar dari penjara, dengan kemarahan yang begitu dalam, diam dan aneh, ia kemudian justru mengecap seluruh kaosnya dengan gambar kerbau berukuran kecil di dada kirinya menggunakan block print dari kayu. Kata kawan saya, kaos bergambar kerbau itu berjumlah nyaris selemari. Dan kemanapun ia pergi, kakeknya selalu mengenakan kaos itu.

 

mei 2013

TD