bersaku tiga, bukan satu

Gambar

Pakaian tak hanya terbuat dari benang. Pakaian tak hanya terbentuk oleh jarum. Pakaian juga terbuat dan terbentuk oleh kekuasaan dan nafsu menertibkan. Dan oleh karena itu, pakaian tak hanya dibuat dan dikerjakan oleh para tukang jahit, namun ia juga dibuat dan dijahit oleh perangkat-perangkat otoritas, mekanisme-mekanisme sosial, dan para pemegang tafsir.

Mendiang Ali Sadikin, Gubernur Jakarta pada tahun 70-an, pernah mengatakan bahwa kemeja batik adalah pakaian yang dapat diterima pada resepsi-resepsi dan jamuan makan malam untuk menggantikan jas atau pakaian sejenis, yang, pada saat itu, lebih dikenal sebagai setelan barat. Namun haruslah dibedakan mana kemeja batik yang resmi dan tidak resmi. Masih menurutnya, kemeja batik “tidak resmi” adalah yang berlengan pendek dan bersaku satu. Dan kemeja batik “resmi” adalah yang berlengan panjang dan memiliki tiga saku, satu di atas dan dua di bawah, kiri dan kanan.

Pada saat itu, memang, kemudian menjadi maraklah kemeja-kemeja batik yang bersaku tiga, bukan satu, mendatangi acara-acara resmi. Kemeja-kemeja batik itu, yang bersaku tiga, bukan satu, menjadi jauh lebih percaya diri untuk bergaul di segala tingkatan.

Apapun itu, suka atau tidak suka, kurang-lebih, begitulah pakaian terjahit.

Deru mesin jahit dan desis kekuasaan.

Dulu dan sekarang. Sekonyol apapun.

Advertisements

Filosofi Pakaian

Saya tidak mengada-ada, atau bermaksud hendak melucu, saat mengatakan bahwa ketika krisis ekonomi-politik yang melanda Indonesia pada Mei 1998 itu mencapai puncaknya, dan akhirnya meledak dan berbelok arah menjadi kerusuhan rasial, dan lalu meluluhlantakkan kota Solo, pada waktu itu, di saat yang genting itu, kakak perempuan saya justru sedang khusyuk menjahit.

Pada tahun-tahun itu saya, kakak perempuan saya, dan ibu saya masih tinggal serumah, dan kakak perempuan saya membuka praktek menjahit di rumah yang kami tinggali bersama itu. Pada hari yang menghebohkan itu, di mana sejarah mencatatnya sebagai salah satu hari yang paling memalukan, kakak perempuan saya tengah menyelesaikan pekerjaannya yang berupa sebuah gaun pengantin warna putih yang cantik dan penuh payet dan renda. Dan ia, karena mengejar tenggat waktu, mengerjakan gaun itu dengan penuh perhatian sehingga tak menyadari kalau berderet pertokoan yang terletak tak sampai seratus meter dari rumah kami dijarah dan dibakar massa. Tetangga-tetangga kami berlarian.

Seandainya kakak perempuan saya sempat keluar rumah sejenak pada hari itu, dan melihat ke sekelilingnya, di mana mobil-mobil dibakar di tengah jalan dan berderet pertokoan hangus dan orang-orang merampok barang-barang seperti kesetanan, mungkin ia akan mempunyai sebuah pertanyaan penting yang berhubungan dengan dunia jahit menjahit, yakni: “Secantik apapun gaun pengantin seseorang, sebagus apapun jahitan dan potongannya, orang gila macam apakah yang hendak menikah di saat seperti ini?”

Pada hari itu, di saat kerusuhan Mei 98 meledak, banyak orang memasang tulisan “Pribumi Muslim” di pintu-pintu rumah atau toko-toko mereka.

Saya sebenarnya telah berkali-kali menceritakan kisah ini, dan menuliskannya di beberapa kesempatan lain, tapi tetap saja harus saya ulangi lagi, bahwa terlepas dari tragedi yang memalukan dan memilukan itu, gaun pengantin buatan kakak perempuan saya itu memang betul-betul cantik. Ia mempunyai detil yang rumit, konstruktif, bervolume dan bersiluet sempurna. Dior, Balenciaga, Marc Jacobs pasti gigit jari dan merasa ngehek ketika melihatnya.

***

Kerusuhan itu menewaskan banyak orang. Kota Solo, yang memang tak begitu besar, alih-alih menjadi sebuah kota pariwisata seperti yang pemerintah kota inginkan, pada saat itu justru menjadi sebuah kota hantu yang penuh dengan bangunan-bangunan hangus dan bangkai-bangkai mobil dan orang-orang hilang. Listrik diputus. Transportasi umum macet. Kebutuhan pokok tak dijual. Selama berhari-hari tak ada beras, bubur, roti, telor atau minyak.

Ibu saya adalah salah seorang yang tidak memasang tulisan “Pribumi Muslim” di pintu depan atau di jendela atau di pagar, kendati rumah kami berada di pinggir sebuah jalan besar, dan oleh karena itu berpeluang besar untuk dirampok atau setidaknya untuk dirusak. Ia hanya menyiapkan sebuah pentungan yang terbuat dari kayu di sebalik pintu. Saya pada hari itu justru bersepeda keliling kota untuk melihat-lihat. Betapa tololnya. Dan seperti yang sudah saya katakan, pada saat itu, kakak perempuan saya sedang sibuk menjahit sebuah gaun pengantin. Jadi, selain ibu saya, tak ada yang peduli untuk menjaga rumah. Kini harus saya akui, ibu saya, pada saat itu, tentu merasa mendongkol luarbiasa, seperti seorang tak bersepatu yang menginjak tai, akibat memiliki anak-anak yang sangat tidak berguna. Untungnya, rumah kami baik-baik saja.

Dan benar saja, pernikahan itu akhirnya ditunda. Gaun pengantin buatan kakak perempuan saya itu, kendati telah ia selesaikan tepat waktu, akhirnya baru diambil oleh si pemesan sekitar tiga atau empat bulan kemudian.

Kata pepatah: lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Sebuah pepatah lain mengatakan: Setiap detil keadaan politik, sosial, budaya dan ekonomi sebuah wilayah akan membentuk dan mengkonstruksi fiolosofi berpakaian masyarakatnya.

Jadi, kira-kira, filosofi berpakaian seperti apa yang kita punya sesaat sebelum dan sesudah kerusuhan rasial itu???

 

TD

Tutup Kepala itu Penting

Gambar

Beberapa diskripsi dari periode awal Islamisasi di Jawa mengisahkan bagaimana pemimpin mengenakan pakaian-pakaian yang berbeda-beda untuk tujuan-tujuan tertentu.

Dalam sebuah artikelnya, Kees van Dijk menyitir sebuah laporan Rijckloff van Goens, yang pada pertengahan abad ketujuh belas, sebagai wakil VOC, berkesempatan mengunjungi istana Mataram, di mana ia dapat menyaksikan salah satu penampilan publik raja Mataram, Susuhunan Mangkurat I (1646-1677). Van Goens mendeskripsikan bagaimana sekitar empat, lima, enam, tujuh sampai delapan ratus bangsawan berkuda berkumpul di alun-alun, dan dengan sangat tekun mengamati dandanan kepala sang raja, apakah memakai tutup kepala Jawa atau turban gaya Turki. Jika raja mengenakan turban, maka semua orang menanggalkan tutup kepala mereka dan mengambil penutup kepala yang lain dari pelayan mereka agar sama dengan sang raja.

Dalam artikelnya tersebut, yang disatukan dalam buku Outward Appearances, Kees van Dijk mengajukan sebuah pertanyaan: Mengapa Susuhunan memakai penutup kepala Jawa, sedangkan pada kesempatan lain ia memakai tutup kepala muslim? Apa yang menjadi pertimbangannya? Mengapa Van Goens tidak menjelaskan hal tersebut? Sedangkan menurutnya, literatur Jawa tradisional kadang-kadang tidak memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti itu.

Tapi tak hanya Kees van Dijk yang mempunyai pertanyaan. Dugaan saya, seluruh pembaca menyimpan pertanyaannya masing-masing.

Sedangkan pertanyaan saya adalah: apa yang akan dilakukan oleh sekitar empat, lima, enam, tujuh sampai delapan ratus bangsawan yang berkumpul di alun-alun itu jika Mangkurat I, karena merasa ganjil, lantas mengganti turban Turki yang telah ia pakai dengan tutup kepala Jawa, dan lalu, dengan sedikit ragu, karena masih merasa ganjil juga, menggantinya kembali dengan turban Turki, dan lalu menggantinya lagi dengan tutup kepala Jawa, dan, yah, menggantinya lagi dengan turban Turki, tapi tak lama kemudian menggantinya kembali dengan tutup kepala Jawa, dan, yah, turban Turki lagi, tutup kepala Jawa lagi, turban Turki lagi, tutup kepala Jawa lagi, turban Turki lagi, dan begitu seterusnya.

Apakah sekitar empat, lima, enam, tujuh sampai delapan ratus bangsawan yang berkumpul di alun-alun itu akan mengikutinya? Kalau iya, saya membayangkan kejadian di alun-alun itu tentu sangat menghibur rakyat.

TD