Tutup Kepala itu Penting

Gambar

Beberapa diskripsi dari periode awal Islamisasi di Jawa mengisahkan bagaimana pemimpin mengenakan pakaian-pakaian yang berbeda-beda untuk tujuan-tujuan tertentu.

Dalam sebuah artikelnya, Kees van Dijk menyitir sebuah laporan Rijckloff van Goens, yang pada pertengahan abad ketujuh belas, sebagai wakil VOC, berkesempatan mengunjungi istana Mataram, di mana ia dapat menyaksikan salah satu penampilan publik raja Mataram, Susuhunan Mangkurat I (1646-1677). Van Goens mendeskripsikan bagaimana sekitar empat, lima, enam, tujuh sampai delapan ratus bangsawan berkuda berkumpul di alun-alun, dan dengan sangat tekun mengamati dandanan kepala sang raja, apakah memakai tutup kepala Jawa atau turban gaya Turki. Jika raja mengenakan turban, maka semua orang menanggalkan tutup kepala mereka dan mengambil penutup kepala yang lain dari pelayan mereka agar sama dengan sang raja.

Dalam artikelnya tersebut, yang disatukan dalam bukuĀ Outward Appearances, Kees van Dijk mengajukan sebuah pertanyaan: Mengapa Susuhunan memakai penutup kepala Jawa, sedangkan pada kesempatan lain ia memakai tutup kepala muslim? Apa yang menjadi pertimbangannya? Mengapa Van Goens tidak menjelaskan hal tersebut? Sedangkan menurutnya, literatur Jawa tradisional kadang-kadang tidak memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti itu.

Tapi tak hanya Kees van Dijk yang mempunyai pertanyaan. Dugaan saya, seluruh pembaca menyimpan pertanyaannya masing-masing.

Sedangkan pertanyaan saya adalah: apa yang akan dilakukan oleh sekitar empat, lima, enam, tujuh sampai delapan ratus bangsawan yang berkumpul di alun-alun itu jika Mangkurat I, karena merasa ganjil, lantas mengganti turban Turki yang telah ia pakai dengan tutup kepala Jawa, dan lalu, dengan sedikit ragu, karena masih merasa ganjil juga, menggantinya kembali dengan turban Turki, dan lalu menggantinya lagi dengan tutup kepala Jawa, dan, yah, menggantinya lagi dengan turban Turki, tapi tak lama kemudian menggantinya kembali dengan tutup kepala Jawa, dan, yah, turban Turki lagi, tutup kepala Jawa lagi, turban Turki lagi, tutup kepala Jawa lagi, turban Turki lagi, dan begitu seterusnya.

Apakah sekitar empat, lima, enam, tujuh sampai delapan ratus bangsawan yang berkumpul di alun-alun itu akan mengikutinya? Kalau iya, saya membayangkan kejadian di alun-alun itu tentu sangat menghibur rakyat.

TD

Advertisements