bersaku tiga, bukan satu

Gambar

Pakaian tak hanya terbuat dari benang. Pakaian tak hanya terbentuk oleh jarum. Pakaian juga terbuat dan terbentuk oleh kekuasaan dan nafsu menertibkan. Dan oleh karena itu, pakaian tak hanya dibuat dan dikerjakan oleh para tukang jahit, namun ia juga dibuat dan dijahit oleh perangkat-perangkat otoritas, mekanisme-mekanisme sosial, dan para pemegang tafsir.

Mendiang Ali Sadikin, Gubernur Jakarta pada tahun 70-an, pernah mengatakan bahwa kemeja batik adalah pakaian yang dapat diterima pada resepsi-resepsi dan jamuan makan malam untuk menggantikan jas atau pakaian sejenis, yang, pada saat itu, lebih dikenal sebagai setelan barat. Namun haruslah dibedakan mana kemeja batik yang resmi dan tidak resmi. Masih menurutnya, kemeja batik “tidak resmi” adalah yang berlengan pendek dan bersaku satu. Dan kemeja batik “resmi” adalah yang berlengan panjang dan memiliki tiga saku, satu di atas dan dua di bawah, kiri dan kanan.

Pada saat itu, memang, kemudian menjadi maraklah kemeja-kemeja batik yang bersaku tiga, bukan satu, mendatangi acara-acara resmi. Kemeja-kemeja batik itu, yang bersaku tiga, bukan satu, menjadi jauh lebih percaya diri untuk bergaul di segala tingkatan.

Apapun itu, suka atau tidak suka, kurang-lebih, begitulah pakaian terjahit.

Deru mesin jahit dan desis kekuasaan.

Dulu dan sekarang. Sekonyol apapun.

Tutup Kepala itu Penting

Gambar

Beberapa diskripsi dari periode awal Islamisasi di Jawa mengisahkan bagaimana pemimpin mengenakan pakaian-pakaian yang berbeda-beda untuk tujuan-tujuan tertentu.

Dalam sebuah artikelnya, Kees van Dijk menyitir sebuah laporan Rijckloff van Goens, yang pada pertengahan abad ketujuh belas, sebagai wakil VOC, berkesempatan mengunjungi istana Mataram, di mana ia dapat menyaksikan salah satu penampilan publik raja Mataram, Susuhunan Mangkurat I (1646-1677). Van Goens mendeskripsikan bagaimana sekitar empat, lima, enam, tujuh sampai delapan ratus bangsawan berkuda berkumpul di alun-alun, dan dengan sangat tekun mengamati dandanan kepala sang raja, apakah memakai tutup kepala Jawa atau turban gaya Turki. Jika raja mengenakan turban, maka semua orang menanggalkan tutup kepala mereka dan mengambil penutup kepala yang lain dari pelayan mereka agar sama dengan sang raja.

Dalam artikelnya tersebut, yang disatukan dalam buku Outward Appearances, Kees van Dijk mengajukan sebuah pertanyaan: Mengapa Susuhunan memakai penutup kepala Jawa, sedangkan pada kesempatan lain ia memakai tutup kepala muslim? Apa yang menjadi pertimbangannya? Mengapa Van Goens tidak menjelaskan hal tersebut? Sedangkan menurutnya, literatur Jawa tradisional kadang-kadang tidak memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti itu.

Tapi tak hanya Kees van Dijk yang mempunyai pertanyaan. Dugaan saya, seluruh pembaca menyimpan pertanyaannya masing-masing.

Sedangkan pertanyaan saya adalah: apa yang akan dilakukan oleh sekitar empat, lima, enam, tujuh sampai delapan ratus bangsawan yang berkumpul di alun-alun itu jika Mangkurat I, karena merasa ganjil, lantas mengganti turban Turki yang telah ia pakai dengan tutup kepala Jawa, dan lalu, dengan sedikit ragu, karena masih merasa ganjil juga, menggantinya kembali dengan turban Turki, dan lalu menggantinya lagi dengan tutup kepala Jawa, dan, yah, menggantinya lagi dengan turban Turki, tapi tak lama kemudian menggantinya kembali dengan tutup kepala Jawa, dan, yah, turban Turki lagi, tutup kepala Jawa lagi, turban Turki lagi, tutup kepala Jawa lagi, turban Turki lagi, dan begitu seterusnya.

Apakah sekitar empat, lima, enam, tujuh sampai delapan ratus bangsawan yang berkumpul di alun-alun itu akan mengikutinya? Kalau iya, saya membayangkan kejadian di alun-alun itu tentu sangat menghibur rakyat.

TD

-

Dewa-Dewi

Bagaimanakah, seharusnya, dewa-dewa berpenampilan?

Dalam novelnya Anansi Boys, Neil Gaiman menggambarkan sosok dewa sebagai seorang lelaki tua berbadan kecil yang mengenakan topi fedora hijau, bersarung tangan warna kuning lemon, dan terkadang mengenakan jas kotak-kotak yang rapi. Dan ia, dewa itu, jago menyanyi. Ia adalah penguasa sejati ruang karaoke. Ia dapat membawakan lagu Yellow Bird, What’s New Pussycat? Dan Under the Boardwalk dengan sangat menyentuh hati. Ia, walaupun tua, sangat mempesona. Ia bagaikan sesuatu dari masa silam, saat sopan santun dan tata krama masih dihargai, begitu tulis Neil Gaiman.

Dewa yang digambarkan oleh Neil Gaiman secara asik itu adalah dewa jail, si Anansi. Di tempat yang lain, ia bisa saja berbentuk laba-laba.

Kurt Vonnegut pernah menulis bahwa ia sebenarnya berharap bahwa dirinyalah yang menulis naskah Our Town. Ia juga berharap bahwa dialah yang menemukan sepatu roda.

Dave Grohl, seorang musisi dan penulis lagu, berharap bahwa dialah yang menciptakan lagu Happy Birthday.

Sementara itu, saya berharap sayalah yang menulis Anansi Boys. Atau Cats’s Cradle atau Timequake, novel-novel milik Kurt Vonnegut. Saya juga berharap bahwa sayalah yang menemukan teori relativitas. Dan, tak lupa, saya juga berharap bahwa sayalah yang membuat seluruh rancangan Louis Vuitton pada peragaan Fall/Winter 2012/2013 lalu, topi-topi besar itu, coat-coat, skirt-skirt, dan dress-dress itu, bukan Marc Jacobs. Dan seandainya benar demikian, saya, tentu saja, tak akan menyerahkan rancangan-rancangan itu kepada Louis Vuitton. Enak saja.

Tapi, yah, lupakanlah.

Sementara itu, dalam pewayangan, dewa-dewa seringkali digambarkan penuh dengan keanggunan dan kewibawaan. Mereka berkain, berkalung, beranting dan bergelang, serta berambut panjang dan bermahkota. Cerita dasar pewayangan adalah Ramayana dan Mahabharata, dan oleh karena itu, penampilan dewa-dewa tersebut tentu saja mengambil konteks Hindu. Dalam wayang kulit, dewa-dewa itu tak jarang digambarkan dengan pakaian berhiaskan prada emas.

Dewa-dewa Yunani, seingat saya, juga berkain. Kain pada dewa-dewi Yunani biasanya polos, tidak bermotif. Melihat jatuhnya kain, saya menduga kain-kain itu hanya dililit, tidak dijahit, dan apalagi diobras. Mesin obras ditemukan baru-baru saja.

***

Tentu saja, dewa-dewi, dan segala turunan dan kerabatnya, selalu diharapkan berpenampilan pantas. Kepantasan penampilan mereka -dewa-dewi dan segala turunan dan kerabatnya tersebut- tidak bisa dilepaskan dari konteks ruang dan waktu yang melingkupinya.

Penampilan mereka terkadang juga berkaitan dengan kekuatan serta spesialisasi keahlian yang mereka miliki. Dan aksesoris serta perlengkapan pakaian yang mereka kenakan, tak jarang, memiliki fungsi tertentu.

Dalam riwayat Jaka Tarub, Dewi Nawangwulan, si bidadari, tak bisa kembali terbang ke kahyangan hanya karena selendangnya disembunyikan oleh Jaka Tarub. Selidik punya selidik, selendang itu ternyata berfungsi seperti sayap pada burung, atau baling-baling pada pesawat propeller, atau mesin jet pada pesawat jet, atau helm pada sepeda motor yang hendak melintas di perempatan yang ada pos polisi di pojokannya.

Jadi, selendang itu lebih dari sekadar selendang. Ia mempunyai fungsi rahasia yang penting. Hal itu serta merta mengingatkan saya pada ibu-ibu jaman dulu yang gemar menyimpan uang pada ujung selendang yang disimpul. Di mana mereka harus membuka dan menyimpul kembali ujung selendang itu setiap kali hendak menaruh dan mengambil uang.

TD

-